Senin, 27 April 2015

TEORI KONSELING CARL R. ROGER

TEORI-TEORI KONSELING
CARL R. ROGER
TEORI PERSON CENTERED
Unesa Logo 2010

BK 2013 B

         APRILIA RISKA DWI K

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
BIMBINGAN DAN KONSELING
2014




KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul
“Teori Person Centered”

Makalah ini berisikan tentang salah satu terapi konseling yaitu person centered yang dibuat oleh Carl R Rogers, pada teori ini seorang terapis percaya jika setiap individu memiliki tujuan untuk maju dan terapis mempercayai jika klien yang paling mengerti tentang dirinya. Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari semua pihak selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Surabaya , 18 September 2014


Penulis








BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Carl R. Rogers mengembangkan terapi person-centered sebagai reaksi terhadap apa yang disebutkannya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Pada hakikatnya, pendekatan person-centered adalah cabang khusus dari terapi humanistik yang menggaris bawahi tindakan mengalami klien berikutnya dunia subjektif dan fenomenalnya. Terapis berfungsi terutarna sebagai penunjang pertumbuhan pribadi kliennya dengan jalan membantu kliennya itu dalam menemukan kesanggupan kesanggupan untuk memecahkan masalah-masalah. Pendekatan person-centered manaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan klien untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri. Hubungan terapeutik antara terapis dan klien merupakan katalisator bagi perubahan; klien menggunakan hubungan yang unik sebagai alat unuk meningkatkan kesadaran dan untuk menernukan sumber-sumber terpendam yang bisa digunakan secara konstruktif dalam pengubahan hidupnya

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud Teori Person-Centered ?
2.      Bagaimana ciri-ciri Teori Person Centered ?
3.      Apa saja struktur kepribadian Teori Person Centered ?
4.      Apa saja yang menjadi dinamika kepribadian dalam teori person centered ?
5.      Apa saja yang dimaksud dengan hambatan dalam teori peson centered ?
6.      Apa tujuan Teori Person Centered ?
7.      Apa Fungsi dan Peran Terapis dalam Teori Person Centered ?
8.      Apa saja Periode-Periode Perkembangan Terapi Person Centered ?
9.      Bagaiman Terapeutik dari Teori Person Centered ?




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengenalan
Teori person centered atau sering juga di sebut teori client centered merupakan salah satu cabang teori humanistik yang dikembangkan oleh Carl R. Roger. Rogers dalam teori ini menunjukkan kepercayaan yang mendalam pada manusia. Rogers percaya manusia mampu bersosialisasi dan bergerak maju, berjuang untuk berfungsi penuh. Rogers menentang  apa yang disebut sebagai keputusasaan dan ketidakberdayaan dalam pandangan psikoanalitik tentang manusia dan di lain pihak menentang konsepsi menerima apa adanya seperti yang digambarkan dalam behaviorisme. Psikologi humanistik lebih penuh harapan dan optinistik terhadap manusia.  Teori ini berpusat pada diri person dan tidak mengarahkan seperti dalam kutipan dibawah ini :
‘Berarti bahwa ahli terapi telah mampu masuk kedalam hubungan yang sangat pribadi dan subjektif dengan klien ini yang berhubungan tidak sebagai ilmuan terhadap objek penelitian,tidak sebagai dokter yang memberikan diagnosis dan pengobatan,- tetapi sebagai pribadi dengan pribadi.’ (Rogers,1961 dalam teori-teori holistic).
B.     Ciri-Ciri Person Centered
Dalam ciri-ciri ini Rogers tidak memaparkan teori Person-Centered sebagai suatu pendekatan terapi yang tetap dan tuntas. Orang lain diharapkan dalam teori tersebut tidak untuk di doktrin atau sebagai tempat percobaan yang berkaitan dengan proses terapi.
Pendekatan person-centered di tujukan pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk menemukan berbagai cara menghadapi kehidupan secara nyata. Klien , adalah sebagai orang yang paling mengetahui jati dirinya sendiri dan menemukan tingkah laku yang lebih pantas untuk dirinya.
Dalam dunia nyata seorang klien ini termasuk dalam pendekatan person-centered. Untuk memahami seorang klien kita harus berusaha dengan mempunyai empati yang cermat. Dengan cara empati dan usaha untuk memahami kepribadian seorang klien, terapis memberikan perhatian dalam persepsi klien dan persepsi terhadap dunia luar.
Prinsip-prinsip dalam terapi person-centered di terapkan pada klien yang fungsi psikologisnya berada pada taraf yang relatif normal maupun pada klien yang penyimpangan psikologisnya lebih besar.
Menurut pendekatan person-centered, psikoterapi hanyalah salah satu contoh dari hubungan pribadi yang saling menguntungkan kepada orang lain (konstruktif). Klien mengalami pertumbuhan psikoterapeutik di dalam dan melalui hubungan dengan seseorang yang membantunya melakukan apa yang tidak bisa dia lakukan sendiri. Ini adalah hubungannya antara konselor yang baik dan sejalan untuk menyeimbangkan tingkah laku dan ekspresi dalam perasaan-perasan yang tidak di pengaruhi orang lain, konselor harus bersikap menerima dan berempatik yang bertindak sebagai agen perubahan terapi untuk klien.
Rogers mengemukakan bahwa ada sikap-sikap tertentu pada pihak klien (ketulusan,kehangatan,penerimaan yang nonposesif, dan ber-empati) yang membentuk kondisi-kondisi yang memadai bagi keefektifan bagi terapi kesembuhan pada klien. Terapi person-centered masuk dalam konsep bahwa fungsi terapis ini adalah tampil langsung dan bisa dijangkau oleh klien serta memusatkan pengalaman di sini dan sekarang yang tercipta melalui hubungan antara klien dan terapis.
Teori person-centered dikembangkan melalui penelitian tentang proses dan hasil terapi. Teori ini bukan suatu teori yang tertutup, melainkan suatu teori yang tumbuh melalui observasi-observasi konseling dan yang secara sinambung berubah sejalan dengan peningkatan pemahaman terhadap manusia dan proses terapi yang sudah di hasilkan oleh penelitian yang baru.
Jadi disini dijelaskan terapi person-centered bukanlah sekumpulan teknik, juga bukan suatu doktrin. Pendekatan ini berakar pada sekumpulan sikap dan kepercayaan yang di tunjukkan oleh terapis. Dan disini terapis dan klien harus saling manusiawi dan berpartisipasi dalam pengalaman hidupnya.

C.    Struktur Kepribadian
Walaupun Rogers nampaknya tidak mementingkan konstruk-konstruk struktural pada perubahan dan perkembangan kepribadian ada dua konstruk yang sangat penting dalam teorinya. Kedua konstruk ini tersebut adalah organisme dan diri(self).
-          Organisme
Dalam teori Person-Centered ini pengertian organisme mencakup dalam 3 hal :
1.      Organisme adalah tempat dari seluruh pengalaman. Pengalaman meliputi segala sesuatu yang secara potensial terdapat dalam kesadaran  organisme pada setiap saat. Keseluruhan pengalaman ini merupakan medan fenomenal.
2.      Dalam realitas subjektif organisme menanggapi dunia seperti yang diamati dan dialaminya. Realitas subjektif inilah yang membentuk perilaku.
3.      Selain itu, organisme juga bisa diartikan sebagai satu kesatuan sistem, sehingga perubahan dalam satu bagian mampu berpengaru pada bagian lain.

-          Medan Fenomena
Medan fenomena adalah keseluruhan pengalaman baik yang internal maupun eksternal, disadari maupun tidak disadari. Medan fenomena adalah seluruh pengalaman didunia dari sudut pandang subjektif. Medan fenomenal tidak identik dengan model kesadaran. “kesadaran adalah perlambangan dari sebagian pengalaman kita” (Rogers, 1959, hlm. 198 dalam teori-teori holistik). Medan fenomena meliputi pengalaman yang disimbolkan (yang diamati dan disusun dalam kaitannya dengan dirinya), dan disimbolkan tetapi diingkari karena tidak konsisten dengan dirinya, dan tidak disimbolkan dan diabaikan karena tidak memiliki hubungan dengan struktur diri.

-          Diri (self)
Rogers memberikan suatu penjelasan yang menarik tentang diri.bagi rogers diri adalah suatu istilah yang kabur, ambigu atau bermakna ganda. Dalam pengalamannya rogers menemukan bahwa setiap klien diberi kesempatan untuk mengungkapkan masalah mereka tanpa suatu bimbingan ternyata mereka cenderung berbicara tentang “diri” dari hal ini nampak jelas bahwa diri merupakan unsur penting dalam pengalaman klien dan aneh karena tujuannya menjadi diri sejatinya. (Rogers, 1959, hlm. 200-201 dalam teori-teori holistik).
Konsep self atau Self adalah konsep yang menggambarkan konsepsi orang mengenai dirinya sendiri, ciri-ciri yang dianggap menjadi bagian dari dirinya. Konsep self juga menggambarkan pandangan diri dalam kaitannya dengan berbagai perannya dalam kehidupan dan dalam kaitannya dengan hubungan interpersonal.
-          Organisme dan Aku : keselarasan  dan ketidakselarasan
Apabila pengalaman-pengalaman yang dilambangkan yang membentuk diri benar-benar mencerminkan pengalaman-pengalaman organisme maka orang yang bersangkutan disebut berpenyesuaian baik, matang, berfungsi sepenuhnya. Jika terjadi inkongruensi antara diri dan organisme menyebabkan individu merasa terancam dan cemas.
Bagaimana inkongruensi terjadi dan bagaimana diri dan organisme dapat dibuat lebih kongruen merupakan keprihatinan utama Rogers.
D.    Dinamika Kepribadian
-          Penerimaan Positif (Penghargaan Positif)
Seseorang mengembangkan konsep self dengan membedakan dan kemudian menginternalisasikan pengalaman eksternal yang memuaskan aktualisasi diri bawaannya. Pengalaman akan dinilai apakah memberikan kepuasan atau tidak, mula-mula secara fisik, namun kemudian berkembang menjadi kepuasan emosional dan sosial. Konsep ini akhirnya mencakup siapa dirinya, siapa seharusnya dirinya, dan siapa kemungkinan dirinya.
Rogers yakin bahwa menerima penerimaan yang positif dari orang lain penting untuk memberikan dampak penerimaan yang positif juga pada diri sendiri, namun saat penghargaan positif terhadap diri sudah terbangun, hal tersebut akan bersifat menetap dan menjadi kebutuhan untuk terus dicintai.
-          Aktualisasi Diri
Rogers memandang individu terus bergerak maju, tingkah laku terbentuk untuk mencapai aktualisasi diri.dan tujuan hidup –menjadi aktualisasi diri-. dua hal yang harus dicapai adalah kebutuhan penerimaan positif dari orang lain dan kebutuhan penerimaan positif dari diri sendiri.
E.     Hambatan
-          Penghargaan Bersyarat
Dari pada mendapatkan penghargaan tidak bersayarat , kebanyakan manusia menerima penghargaan bersyarat, yaitu mereka mempersepsikan bahwa orang lain mencintai mereka dan menerima mereka hanya apabila mereka dapat memenuhi ekspektasi dan persetujuan dari pihak-pihak tertentu.
Penghargaan bersyarat menjadi kriterai penerimaan atau penolakan terhadap pengalaman kita. Apabila kita melihat orang lain menerima kita tanpa melihat tindakan kita, maka kita percaya bahwa kita dihargai tanpa syarat. Akan tetapi, apabila kita memiliki persepsi bahwa beberapa perilaku kita ada yang diterima dan ada yang tidak diterima, maka kita akan melihat penghargaan terhadap diri kita bersifat kondisional. Akhirnya, kita mempercayai penilaian orang lain, dan mengabaikan persepsi kita serta secara bertahap mulai menjadi terasing dari diri sendiri.
-          Inkongruensi
Ketidakseimbangan psikologis dimulai saat kita gagal mengenali pengalaman organismic kita sebagai pengalaman diri, yaitu ketika kita tidak secara akurat membuat simbolisasi dari pengalaman organismik kita ke dalam kesadaran, karena pengalaman tersebut tidak sesuai dengan konsep diri. hal inilah yang menimbulkan gannguan psikologis.
-          Kecemasan dan ketegangan
Ketika kita mulai sadar terjadi inkongruensi anatara konsep diri dan pengalaman organismic, kita akan mulai merasakan kecemasan. Menurut Rogers, kecemasa adalah keadaan tidak menyenangkan atau tekanan dari sumber yang tidak diketahui. Semakin kita menyadari inkongruensi yang terjadi kecemasan akan berubah menjadi ancaman, bahwa diri kita tak lagi utuh atau kongruen.
-          Sikap Difensif
Sikap difensif menurut Rogers adalah perlindungan atas konsep diri atas kecemasan dan ancaman, dengan penyangkalan atau ditorsi dari pengalaman yang tidak konsisten dengan konsep diri.
1.      Distorsi adalah pengalaman yang diinterpretasikan secara salah dalam rangka menyesuaikan dengan aspek yang ada dalam konsep diri.
2.      Denial adalah omenolak menyadari suatu pengalaman atau setidaknya menghalangi dari beberapa bagian dari pengalaman untuk didimbolisasi.

F.     Tujuan Person Centered
Tujuan dasar terapi person center adalah menciptakan suasana yang kondusif untuk membantu klien untuk menjadi seorang pribadi yang berfungsi penuh. Guna mencapai tujuan ini terapis harus berusaha agar memahami hal-hal yang ada dibalik topeng yang digunakan. Klien sadar ataupun tidak sadar mengembangkan suatu topeng untuk mempertahankan diri dari ancaman yang ia rasa. Topeng ini menghambat klien untuk tampil sesuai dirinya bahkan menjadi asing terhadap dirinya sendiri
Rogers (1961) dalam theory and practice of counseling and psychotherapy menguraikan ciri-ciri orang yang bergerak maju dan sebagai berikut:
1.      Keterbukaan pada pengalaman
Keterbukaan pada pengalaman perlu memandang kenyataan tanpa mengubah bentuknya supaya sesuain dengan struktur diri yang tersusun lebih dulu. Sebagai lawan kebertahanan,keterbukaan,pada pengalaman menyiratkan menjadi lebih sadar terhadap kenyataan itu hadir diluar dirinya.bahwa kepercayaan-kepercayaan orang tidak kaku,dia dapat tetap terbuka terhadap pengetahuan lebih lanjut dan pertumbuhan serta bisa menoleransi kedwiartian.
2.      Kepercayaan terhadap organisme sendiri
Tujuan terapi adalah membantu klien untuk bisa percaya pada diri sendiri. Tahap permulaan terapi kepercayaan klien terhadap diri sendiri dan terhadap keputusan sendiri.mereka mempunyai khas mencari saran dan jawaban dari luar karena mereka tidak tidak mempercayai kemampuan dirinya sendiri untuk mengarahkan hidupnya sendiri.
3.      Tempat evaluasi internal
Tempat evaluasi sendiri yang berkaitan pada kepercayaan diri sendiri berarti lebih bayak mencari jawaban pada diri sendiri bagi masalah keberadaannya. Klien mulai melihat kedalam dirinya sendiri dalam membuat keputusan dibandingkan memandang persetujuan universal dari orang lain seperti sebelumnya.
4.      Kesediaan untuk menjadi suatu proses
Dalam terbentuknya perubahan dalam diri klien menjadi lebih baik,klien sabar bahwa perubahan itu adalah hasil dari proses menjalani terapi untuk mencari jalan keluar untuk mencapai tujuan.

Tujuan-tujuan terapi yang telah diuraikan merupakan tujuan yang luas. Inti dari terapi person centered adalah anggapan bahwa klien dalam hubungannya dengan terapis mampu memiliki kesanggupan untuk menentukan dan menjernihkan tujuan-tujuan sendiri. Terapis berusaha memdorong klien agar mendengarkan dirinya sendiri dan mampu membuat pilihan yang bukan pilihan terapis melainkan melainkan pilihannya sendiri.

G.    Fungsi dan Peran Terapis
Peran terapis  person-centered berakar pada cara-cara keberadaannya dan sikap-sikapnya, bukan pada penggunaan teknik yang di rancang untuk menjadikan klien “berbuat sesuatu”.
Pada dasarnya, terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai alat untuk mengubah. Dengan menghadapi klien pada taraf pribadi ke pribadi , maka “peran” terapis adalah tanpa peran. Adapun fungsi terapis adalah membangun sutu iklim terapeutik yang menunjang pertumbuhan klien.
Jadi , terapis person-centered membangun hubungan yang membantu di mana klien akan mengalami kekebasan yang di perlukan untuk mengeksplorasi area-area hidupnya yang sekarang diingkari atau distorsi (gangguan). Dalam hal ini klien kurang defensif dan menjadi lebih terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam dirinya maupun dalam dunia.

·         Pengalaman Klien dalam Terapi
Dalam model clien-centered, perubahan terapeutik bergantung kepada persepsi klien, baik tentang pengalamannya sendiri dalam terapi maupun tentang sikap-sikap dasar konselor. Jika konselor menciptakan suatu kondisi yang kondusif bagi eksplorasi diri, maka klien memiliki peluang untuk mengalami dan mengeksplorasi, perasaan-perasaannya yang banyak di antaranya diingkari pada permulaan terapi.
Pada mulanya, klien boleh jadi mengharapkan terapis akan menyediakan jawaban-jawaban dan pengarahan, atau memandang ahli terapis yang bisa menyediakan pemecahan-pemecahan masalah. Hal-hal yang mendorong klien untuk menjalani terapi mungkin adalah perasaan tidak berdaya, tidak kuasa, dan tidak berkemampuan untuk membuat putusan-putusan atau mengarahkan hidupnya sendiri secara efektif.
Pada tahap permulaan terapi, tingkah laku dan perasaan-perasaan klien boleh jadi ditandai oleh keyakinan-keyakinan dan sikap-sikap yang sangat kaku, hambatan hambatan internal, kekurangan keterpusatan, merasa terpisah dengan perasaan-perasaan sendiri.
Dalam iklim terapeutik yang diciptakan oleh terapis, klie akan bisa mengeksplorasi dalam lingkungan yang aman dan dipercaya aspek-aspek dunia pribadinya yang sembunyi.
Setelah terapi berjalan baik, klien mampu mengeksplorasi lingkup yang lebih luas dari perasaan-perasaannya. Kini klien mampu menyatakan ketakutan, kecemasan, perasaan Dalam iklim terapeutik yang diciptakan oleh terapis, klien akan bisa mengeksplorasi dalam lingkungan yang aman dan dipercaya aspek-aspek dunia pribadinya yang sembunyi.
Setelah terapi berjalan baik, klien mampu mengeksplorasi lingkup yang lebih luas dari perasaan-perasaannya. Kini klien mampu menyatakan ketakutan, kecemasan, perasaan berdosa, perasaan malu, benci, marah, dan perasaan-perasaan lainnya yang dianggap terlalu negatif untuk di terima dan dimasukkan ke dalam struktur dirinya.berdosa, perasaan malu, benci, marah, dan perasaan-perasaan lainnya yang dianggap terlalu negatif untuk di terima dan dimasukkan ke dalam struktur dirinya.
Kini pengerutan dan distorsi klien berkurang serta ia bergerak ke arah persediaan yang lebih besar untuk menerima dan mengintegrasikan beberapa perasaan yang bertentangan dan membingungkan mengenai dirinya.
Lambat laun klien menemukan aspek-aspek diri, yang negatif maupun yang positif, yang di biarkannya sembunyi. Klien bergerak menjadi lebih terbuka kepada segenap pengalaman, kurang difensi, lebih banyak berhubungan dengan apa yang dirasakannya pada saat ini, serta mengalami peningkatan kepercayaan kepada diri sendiri untuk secara efektif mengelola kehidupannya sendiri. Dalam hal ini pengalaman klien dalam terapi adalah melepaskan belenggu-belenggu deterministik yang telah membuat dirinya berada dalam penjara psikologis. Dengan meningkatnya kebebasan, klien cenderung menjadi lebih mateng secara psikologis dan lebih teraktualisasi.

H.    Periode-Periode Perkembangan Terapi Person Centered

-          Periode 1 (1940-1950): Psikoterapi nondirektif
Pendekatan yang menekankan penciptaan iklim permisif dan noninterventif. Melalui terapi nondirektif, klien akan mencapai pemahaman atas dirinya sendiri dan atas situasi kehidupannya.
-          Periode 2 (1950-1957): Psikoterapi reflektif
Terapis terutama merefleksikan perasaan-perasaan klien dan menghindari ancaman dalam hubungan dengan kliennya. Melalui terapi reflektif, klien mampu mengembangkan keselarasan antara konsep diri dan konsep diri idealnya.
-          Periode 3 (1957-1970): Terapi eksperiensial
Tingkah laku yang luas dari terapis yang mengungkapkan sikap-sikap dasarnya menandai pendekatan terapi eksperiensial ini. Terapi difokuskan pada apa yang sedang dialami oleh klien dan pada pengungkapan apa yang sedang dialami oleh terapis. Klien tumbuh pada suatu rangkaian keseluruhan (continuum) dengan belajar menggunakan apa yang sedangn dialami.
Terapis berfungsi sebagai penjernih, tetapi tidak menampilkan kepribadiannya sendiri. Pada periode ini, teknik-teknik seperti bertanya, menggali, mengevaluasi, dan menafsirkan serta prosedur seperti sejarah kasus, tes psikologi, dan diagnosis tidak menjadi bagian dari proses terapeutik karena kesemuanya berlandaskan pedoman-pedoman eksternal;terapi person-centered mengandalkan dorongan pertumbuhan bawaan klien.
Pada periode berikutnya, terapi eksperiential menitik beratkan kondisi-kondisi tertentu yang “diperlukan dan memadai” bagi kelangsungan perubahan kepribadian. Periode ini memperkenalkan unsure-unsur penting dari sikap-sikap terapis, yakni keselarasan, pandangan dan penerimaan positif, dan pengertian yang empatik sebagai prasyarat bagi terapi yang efektif.
Fokus pada pengalaman langsung dari terapis mengarahkan terapis kepada pengungkapan perasaan-perasaannya sendiri terhadap klien jika dianggap pantas dan lebih dari periode-periode sebelumnya, mengizinkan terapis untuk membawa kepribadiannya sendiri. Terapis menjauhi prosedur-prosedur yang umum digunakan seperti penetapan tujuan-tujuan, pemberian saran, penafsiran tingkah laku, dan pemilihan topic-topik yang akan dieksplorasi.
I.       Terapeutik
Terapi person centered terlihat sederhana dalam teori namun pada kenyataannya susah di pratekkan. Karena dibutuhkan hubungan yang kongruen antara terapis dan klien, seperti yang telah dinyatakan sebelumnya terapi ini berpusat pada klien jika kondisi kongruensi, penerimaan positif tidak bersyarat dan mendengarkan secara empati terjadi dengan baik dalam hubungan terapis dengan klien maka proses terapi person centered dapat terjadi sebagai mana mestinya.
Kondisi
Rogers 1959 dalam teori kepribadian mengansumsikan bahwa suatu perkembangan terapeutik dapat terjadi beberapa kondisi berikut dianggap perlu dan memadai yaitu :
1.      Terapis yang Kongruen
 tidak hanya seseorang yang baik hati dan ramah namun seorang manusia yang utuh dan menjadi diri sendiri mereka tidak memakai topeng atau berusaha terlihat menyenangkan.
2.      Penerimaan positif tidak bersyarat
terapis dengan penerimaan positif tidak bersyarat berarti terapis dapat menerima dan menghargai klien mereka tanpa batasan dan tanpa melihat perilaku klien. Selain itu penerimaan positif tidak bersyarat juga merupakan penerimaan yang non posesif maksudnya meskipun terdapat kepedulian terhadap klien namun terapis tidak dapat menentukan setiap langkah klien.
3.      Mendengarkan secara empati .
Empati hadir saat terapis dapat merasakan perasaan klien dan mengomunikasikan persepsi ini,seorang terapis melihat segala sesuatu dari sudut pandang klien dank lien merasa aman dan tidak terancam. Empati efaktif karena klien dapat mendengarkan diri mereka sendiri dan pada akhirmnya menjadi terapis bagi mereka.

Proses
Apabila di awal proses mamapu terjalin kondisi yang dibutuhkan antara klien dan terapis secara baik maka proses perubahan terapi akan berlanngsung.
1.   Tahapan dalam perubahan terapeutik
Proses dari perubahan yang konstruktif di bagi oleh rogers menjadi tujuh tahapan
-       Tahap 1 dicirikan dengan ketidakmauan untuk mengomunikasikan apapun tentang diri
-       Tahap 2 klien mulai menjadi sedikit lebih tidak kaku.mereka mendiskusikan peristiwa-peristiwa eksternal daan orang lain, tetapi tidak mengakui atau gagal menyadari mengenai perasaan mereka sendiri.
-       Tahap 3 saat klien memulai tahap 3 mereka lebih bebas dalam membicarakan diri mereka walaupun masih sebagai objek.klien membicarakan perasaan dan emosi yang terjadi di masa lalu dan di masa depan,erta menghindari perasaan yang sedang di alami sekarang.
-       Tahap 4 klien pada tahap ini mulai berbicara mengenai perasaan mendalam,tetapi bukan yang dirasakan saat itu. Saat klien mengeksperisikan perasaan yang dirasakan sekarng,mereka biasannya akan terkejut dengan ekpresi tersebut. Mereka menyangkal hal itu walaupun mereka merasakan emosi yang sedang dialami. Meraka mulai mempertanyakan nilai-nilai yang mereka dapatkan dari orangt lain dan mulai melihat inkongruensi dari diri yang mereka rasakan dengan pengalaman organismic mereka. Mereka menerima kebebasan dan tanggung jawab yang lebih pada saat mereka berada pada tahap ke-3, dan secara perlahan membiarkan diri mereka untuk lebih terlibat dalam hubungan dengan terapis.
-       Tahap 5 klien mulai melalui perubahan dan perubahan signifikan, mereka dapat mengekspresikan perasaan yang sedang mereka alami walaupun belum secara akurat. Mereka mulai membuat penemuan baru dan inovatif mengenai diri mereka. Selain itu, mereka mulai membuat keputusan mereka sendiri dan mengambil tanggung jawab atas keputusan mereka.
-       Tahap 6, pada tahap 6 klien mengalami pertumbuhan dramatis dan pergerakan menuju seorang manusia yang sepenuhnya atau aktualisasi diri. mereka mulai menerima pengalaman-pengalaman yang dulunya mereka tolak dan terjadinya kongruen antara pengalaman-pengalaman yang mereka dapatkan dengan kesadaran dan ekspresi mereka.
Dalam tahap ini klien akan merasakan beban berat yang mulai hilang sehingga menjadi lebih rileks, air mata mengalir. Mereka tidak lagi hanya memandang dari segi eksternal namun bertumpu pada diri mereka.
-       Tahap 7, pada tahap ini klien telah menjadi manusia ‘masa depan’ yang berfungsi sepenuhnya. Mereka mampu menggeneralisasikan pengalaman dalam terapi mreka dalam dunia mereka diluar terapi. Mereka lebih percaya diri  untuk menjadi diri mereka sendiri, merasakan pengalaman mereka secara mendalam, dan menghidupkan pengalaman tersebut dimasa sekarang.
Penjelasan teoritis dari perubahan terapeutik
Rogers (1980) dalam teori kepribadian, memberikan penjelasan sesuai dengan alur logika yaitu :
Ketika seorang merasakan bahwa mereka dihargai, diterima tanpa syarat dan dimengerti. Mereka akan merasa jika mereka dicintai. Hal itulah yang diberikan terapis, sehingga klien ketika mereka dimengerti mereka akan mulai belajar mengerti diri mereka sendiri, menerima diri mereka sendiri tanpa syarat. Hasilnya, mereka merasakan kekongruenan antara dengan pengalaman organismic mereka. Ketiak mereka memilik ketiga karakteristik terapeutik mereka akan bisa menjadi terapis bagi diri mereka sendiri.
Hasil
Dari proses terapeutik mulai terjadi perubahan yang diharapkan seperti :
1.      Klien yang kongruen
2.      Tidak difensif,
3.      Terbuka terhadap pengalaman.
4.      Mempunyai pandangan yang lebih relistis mengenai dunia
5.      Mengembangkan penghargaan diri yang positif
6.      Mempersempit diri ideal dengan diri sebenarnya.
7.      Menjadi tidak terlalu rentan atas ancaman.
8.      Menjadi tidak terlalu cemas
9.      Mengakui pengalaman-pengalamannya
10.  Menjadi lebih menerima orang lain
11.  Menjadi lebih kongruen dengan hubungnya dengan orang lain.


















BAB III
SIMPULAN
Pada teori person centered ini Rogers memandang manusia dapat menyusun dirinya sendiri menurut persepsinya tentang kenyataan. Teori ini menekankan bahwa klien dapat memahami faktor-faktor yang ada dalam dirinya yang menimbulkan ketidakbahagiaan. Klien sanggup untuk melakukan perubahan pribadi yang konstruktif.
Hal-hal diatas dapat tercapai jika hubungan anatara terapis dan klien merupakan hubungan yang kongruen, menerima apa adanya, dan empatik. Terapi ini mendorong klien untuk menanggalkan pertahanan pada pengalaman yang yang sebelumnya diingkari.
Klien dituntut untuk terbuka pada pengalaman, percaya pada dirinya sendiri, mengembangkan evaluasi internal, kesediaan menjadi suatu prosesdan dengan cara-cara lain bergerak menuju taraf yang lebih tinggi dari aktualisasi diri. terapis tidak mengajukan tujuan-tujuan spesifik, klien sendirilah yang menentukan tujuan dan nilai hidupnya.










DAFTAR PUSTAKA
Alwisol. 2008. Psikologi Kepribadian. Malang : UMM Press.
Corey, Gerald. 2009.  Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. United States of America.
Graham, Helen. 2005. Psikologi Humanistik. Yogyakarta : Pustaka Belajar
Feist, Jess. Gregory J Feist. 2010. Teori Kepribadian. Jakarta : Salemba Humanika.
Hall, Calvin S. Gardner Lindzey. 2005 Teori- Teori Holistik (Organismik-Fenomenologis). Yogyakarta : Kanisius.
Jarvis, Matt. 2006. Teori-Teori Psikologi. Bandung : Nusamedia.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar