TEORI-TEORI KONSELING
CARL R. ROGER
TEORI PERSON CENTERED

BK 2013 B
APRILIA RISKA DWI K
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
BIMBINGAN DAN KONSELING
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Teori Person Centered”
Makalah ini
berisikan tentang salah satu terapi konseling yaitu person centered yang dibuat
oleh Carl R Rogers, pada teori ini seorang terapis percaya jika setiap individu
memiliki tujuan untuk maju dan terapis mempercayai jika klien yang paling
mengerti tentang dirinya. Kami menyadari
bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang
membangun dari semua pihak selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata,
kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan makalah ini. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita.
Amin.
Surabaya , 18
September 2014
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Carl R.
Rogers mengembangkan terapi person-centered sebagai reaksi terhadap apa yang
disebutkannya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis.
Pada hakikatnya, pendekatan person-centered
adalah cabang khusus dari terapi humanistik yang menggaris bawahi tindakan
mengalami klien berikutnya dunia subjektif dan fenomenalnya. Terapis
berfungsi terutarna sebagai penunjang pertumbuhan pribadi kliennya dengan jalan
membantu kliennya itu dalam menemukan
kesanggupan kesanggupan untuk memecahkan masalah-masalah. Pendekatan person-centered
manaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan klien untuk mengikuti jalan
terapi dan menemukan arahnya sendiri. Hubungan terapeutik antara terapis dan
klien merupakan katalisator bagi perubahan; klien menggunakan hubungan yang unik sebagai alat unuk meningkatkan
kesadaran dan untuk menernukan sumber-sumber terpendam yang bisa
digunakan secara konstruktif dalam pengubahan hidupnya
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
yang dimaksud Teori Person-Centered ?
2. Bagaimana
ciri-ciri Teori Person Centered ?
3. Apa
saja struktur kepribadian Teori Person Centered ?
4. Apa
saja yang menjadi dinamika kepribadian dalam teori person centered ?
5. Apa
saja yang dimaksud dengan hambatan dalam teori peson centered ?
6. Apa
tujuan Teori Person Centered ?
7.
Apa Fungsi dan Peran Terapis dalam Teori
Person Centered ?
8. Apa saja Periode-Periode Perkembangan
Terapi Person Centered ?
9.
Bagaiman Terapeutik dari Teori Person Centered
?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengenalan
Teori
person centered atau sering juga di sebut teori client centered merupakan salah
satu cabang teori humanistik yang dikembangkan oleh Carl R. Roger. Rogers dalam
teori ini menunjukkan kepercayaan yang mendalam pada manusia. Rogers percaya
manusia mampu bersosialisasi dan bergerak maju, berjuang untuk berfungsi penuh.
Rogers menentang apa yang disebut
sebagai keputusasaan dan ketidakberdayaan dalam pandangan psikoanalitik tentang
manusia dan di lain pihak menentang konsepsi menerima apa adanya seperti yang
digambarkan dalam behaviorisme. Psikologi humanistik lebih penuh harapan dan
optinistik terhadap manusia. Teori ini
berpusat pada diri person dan tidak mengarahkan seperti dalam kutipan dibawah
ini :
‘Berarti
bahwa ahli terapi telah mampu masuk kedalam hubungan yang sangat pribadi dan
subjektif dengan klien ini yang berhubungan tidak sebagai ilmuan terhadap objek
penelitian,tidak sebagai dokter yang memberikan diagnosis dan pengobatan,-
tetapi sebagai pribadi dengan pribadi.’ (Rogers,1961 dalam teori-teori
holistic).
B.
Ciri-Ciri Person Centered
Dalam ciri-ciri ini Rogers tidak memaparkan
teori Person-Centered sebagai suatu pendekatan terapi yang tetap dan tuntas.
Orang lain diharapkan dalam teori tersebut tidak untuk di doktrin atau sebagai
tempat percobaan yang berkaitan dengan proses terapi.
Pendekatan person-centered di tujukan pada
tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk menemukan berbagai cara menghadapi
kehidupan secara nyata. Klien , adalah sebagai orang yang paling mengetahui
jati dirinya sendiri dan menemukan tingkah laku yang lebih pantas untuk
dirinya.
Dalam dunia nyata seorang klien ini termasuk
dalam pendekatan person-centered. Untuk memahami seorang klien kita harus
berusaha dengan mempunyai empati yang cermat. Dengan cara empati dan usaha
untuk memahami kepribadian seorang klien, terapis memberikan perhatian dalam
persepsi klien dan persepsi terhadap dunia luar.
Prinsip-prinsip dalam terapi person-centered
di terapkan pada klien yang fungsi psikologisnya berada pada taraf yang relatif
normal maupun pada klien yang penyimpangan psikologisnya lebih besar.
Menurut pendekatan person-centered,
psikoterapi hanyalah salah satu contoh dari hubungan pribadi yang saling
menguntungkan kepada orang lain (konstruktif). Klien mengalami pertumbuhan
psikoterapeutik di dalam dan melalui hubungan dengan seseorang yang membantunya
melakukan apa yang tidak bisa dia lakukan sendiri. Ini adalah hubungannya
antara konselor yang baik dan sejalan untuk menyeimbangkan tingkah laku dan
ekspresi dalam perasaan-perasan yang tidak di pengaruhi orang lain, konselor
harus bersikap menerima dan berempatik yang bertindak sebagai agen perubahan
terapi untuk klien.
Rogers mengemukakan bahwa ada sikap-sikap
tertentu pada pihak klien (ketulusan,kehangatan,penerimaan yang nonposesif, dan
ber-empati) yang membentuk kondisi-kondisi yang memadai bagi keefektifan bagi
terapi kesembuhan pada klien. Terapi person-centered masuk dalam konsep bahwa
fungsi terapis ini adalah tampil langsung dan bisa dijangkau oleh klien serta
memusatkan pengalaman di sini dan sekarang yang tercipta melalui hubungan
antara klien dan terapis.
Teori person-centered dikembangkan melalui
penelitian tentang proses dan hasil terapi. Teori ini bukan suatu teori yang
tertutup, melainkan suatu teori yang tumbuh melalui observasi-observasi
konseling dan yang secara sinambung berubah sejalan dengan peningkatan
pemahaman terhadap manusia dan proses terapi yang sudah di hasilkan oleh
penelitian yang baru.
Jadi disini dijelaskan terapi person-centered
bukanlah sekumpulan teknik, juga bukan suatu doktrin. Pendekatan ini berakar
pada sekumpulan sikap dan kepercayaan yang di tunjukkan oleh terapis. Dan
disini terapis dan klien harus saling manusiawi dan berpartisipasi dalam
pengalaman hidupnya.
C.
Struktur Kepribadian
Walaupun
Rogers nampaknya tidak mementingkan konstruk-konstruk struktural pada perubahan
dan perkembangan kepribadian ada dua konstruk yang sangat penting dalam
teorinya. Kedua konstruk ini tersebut adalah organisme dan diri(self).
-
Organisme
Dalam teori Person-Centered ini pengertian
organisme mencakup dalam 3 hal :
1. Organisme
adalah tempat dari seluruh pengalaman. Pengalaman meliputi segala sesuatu yang
secara potensial terdapat dalam kesadaran
organisme pada setiap saat. Keseluruhan pengalaman ini merupakan medan
fenomenal.
2. Dalam
realitas subjektif organisme menanggapi dunia seperti yang diamati dan
dialaminya. Realitas subjektif inilah yang membentuk perilaku.
3. Selain
itu, organisme juga bisa diartikan sebagai satu kesatuan sistem, sehingga
perubahan dalam satu bagian mampu berpengaru pada bagian lain.
-
Medan Fenomena
Medan
fenomena adalah keseluruhan pengalaman baik yang internal maupun eksternal,
disadari maupun tidak disadari. Medan fenomena adalah seluruh pengalaman
didunia dari sudut pandang subjektif. Medan fenomenal tidak identik dengan
model kesadaran. “kesadaran adalah perlambangan dari sebagian pengalaman kita”
(Rogers, 1959, hlm. 198 dalam teori-teori holistik). Medan fenomena meliputi
pengalaman yang disimbolkan (yang diamati dan disusun dalam kaitannya dengan
dirinya), dan disimbolkan tetapi diingkari karena tidak konsisten dengan
dirinya, dan tidak disimbolkan dan diabaikan karena tidak memiliki hubungan
dengan struktur diri.
-
Diri (self)
Rogers memberikan suatu penjelasan yang
menarik tentang diri.bagi rogers diri adalah suatu istilah yang kabur, ambigu
atau bermakna ganda. Dalam pengalamannya rogers menemukan bahwa setiap klien
diberi kesempatan untuk mengungkapkan masalah mereka tanpa suatu bimbingan
ternyata mereka cenderung berbicara tentang “diri” dari hal ini nampak jelas
bahwa diri merupakan unsur penting dalam pengalaman klien dan aneh karena
tujuannya menjadi diri sejatinya. (Rogers, 1959, hlm. 200-201 dalam teori-teori
holistik).
Konsep self atau Self adalah konsep yang
menggambarkan konsepsi orang mengenai dirinya sendiri, ciri-ciri yang dianggap
menjadi bagian dari dirinya. Konsep self juga menggambarkan pandangan diri
dalam kaitannya dengan berbagai perannya dalam kehidupan dan dalam kaitannya
dengan hubungan interpersonal.
-
Organisme dan Aku : keselarasan dan ketidakselarasan
Apabila pengalaman-pengalaman yang
dilambangkan yang membentuk diri benar-benar mencerminkan pengalaman-pengalaman
organisme maka orang yang bersangkutan disebut berpenyesuaian baik, matang,
berfungsi sepenuhnya. Jika terjadi inkongruensi antara diri dan organisme
menyebabkan individu merasa terancam dan cemas.
Bagaimana inkongruensi terjadi dan bagaimana
diri dan organisme dapat dibuat lebih kongruen merupakan keprihatinan utama Rogers.
D.
Dinamika Kepribadian
-
Penerimaan Positif (Penghargaan Positif)
Seseorang mengembangkan konsep self dengan
membedakan dan kemudian menginternalisasikan pengalaman eksternal yang
memuaskan aktualisasi diri bawaannya. Pengalaman akan dinilai apakah memberikan
kepuasan atau tidak, mula-mula secara fisik, namun kemudian berkembang menjadi
kepuasan emosional dan sosial. Konsep ini akhirnya mencakup siapa dirinya,
siapa seharusnya dirinya, dan siapa kemungkinan dirinya.
Rogers yakin bahwa menerima penerimaan yang
positif dari orang lain penting untuk memberikan dampak penerimaan yang positif
juga pada diri sendiri, namun saat penghargaan positif terhadap diri sudah
terbangun, hal tersebut akan bersifat menetap dan menjadi kebutuhan untuk terus
dicintai.
-
Aktualisasi Diri
Rogers
memandang individu terus bergerak maju, tingkah laku terbentuk untuk mencapai
aktualisasi diri.dan tujuan hidup –menjadi aktualisasi diri-. dua hal yang
harus dicapai adalah kebutuhan penerimaan positif dari orang lain dan kebutuhan
penerimaan positif dari diri sendiri.
E.
Hambatan
-
Penghargaan Bersyarat
Dari
pada mendapatkan penghargaan tidak bersayarat , kebanyakan manusia menerima
penghargaan bersyarat, yaitu mereka mempersepsikan bahwa orang lain mencintai
mereka dan menerima mereka hanya apabila mereka dapat memenuhi ekspektasi dan
persetujuan dari pihak-pihak tertentu.
Penghargaan
bersyarat menjadi kriterai penerimaan atau penolakan terhadap pengalaman kita.
Apabila kita melihat orang lain menerima kita tanpa melihat tindakan kita, maka
kita percaya bahwa kita dihargai tanpa syarat. Akan tetapi, apabila kita
memiliki persepsi bahwa beberapa perilaku kita ada yang diterima dan ada yang
tidak diterima, maka kita akan melihat penghargaan terhadap diri kita bersifat
kondisional. Akhirnya, kita mempercayai penilaian orang lain, dan mengabaikan
persepsi kita serta secara bertahap mulai menjadi terasing dari diri sendiri.
-
Inkongruensi
Ketidakseimbangan
psikologis dimulai saat kita gagal mengenali pengalaman organismic kita sebagai
pengalaman diri, yaitu ketika kita tidak secara akurat membuat simbolisasi dari
pengalaman organismik kita ke dalam kesadaran, karena pengalaman tersebut tidak
sesuai dengan konsep diri. hal inilah yang menimbulkan gannguan psikologis.
-
Kecemasan dan ketegangan
Ketika
kita mulai sadar terjadi inkongruensi anatara konsep diri dan pengalaman
organismic, kita akan mulai merasakan kecemasan. Menurut Rogers, kecemasa adalah
keadaan tidak menyenangkan atau tekanan dari sumber yang tidak diketahui.
Semakin kita menyadari inkongruensi yang terjadi kecemasan akan berubah menjadi
ancaman, bahwa diri kita tak lagi utuh atau kongruen.
-
Sikap Difensif
Sikap
difensif menurut Rogers adalah perlindungan atas konsep diri atas kecemasan dan
ancaman, dengan penyangkalan atau ditorsi dari pengalaman yang tidak konsisten
dengan konsep diri.
1.
Distorsi adalah pengalaman yang
diinterpretasikan secara salah dalam rangka menyesuaikan dengan aspek yang ada
dalam konsep diri.
2.
Denial adalah omenolak menyadari suatu pengalaman
atau setidaknya menghalangi dari beberapa bagian dari pengalaman untuk
didimbolisasi.
F.
Tujuan Person Centered
Tujuan
dasar terapi person center adalah menciptakan suasana yang kondusif untuk
membantu klien untuk menjadi seorang pribadi yang berfungsi penuh. Guna
mencapai tujuan ini terapis harus berusaha agar memahami hal-hal yang ada
dibalik topeng yang digunakan. Klien sadar ataupun tidak sadar mengembangkan
suatu topeng untuk mempertahankan diri dari ancaman yang ia rasa. Topeng ini
menghambat klien untuk tampil sesuai dirinya bahkan menjadi asing terhadap
dirinya sendiri
Rogers (1961) dalam theory and practice of
counseling and psychotherapy menguraikan ciri-ciri orang yang bergerak maju dan
sebagai berikut:
1. Keterbukaan
pada pengalaman
Keterbukaan
pada pengalaman perlu memandang kenyataan tanpa mengubah bentuknya supaya
sesuain dengan struktur diri yang tersusun lebih dulu. Sebagai lawan
kebertahanan,keterbukaan,pada pengalaman menyiratkan menjadi lebih sadar
terhadap kenyataan itu hadir diluar dirinya.bahwa kepercayaan-kepercayaan orang
tidak kaku,dia dapat tetap terbuka terhadap pengetahuan lebih lanjut dan
pertumbuhan serta bisa menoleransi kedwiartian.
2. Kepercayaan
terhadap organisme sendiri
Tujuan
terapi adalah membantu klien untuk bisa percaya pada diri sendiri. Tahap
permulaan terapi kepercayaan klien terhadap diri sendiri dan terhadap keputusan
sendiri.mereka mempunyai khas mencari saran dan jawaban dari luar karena mereka
tidak tidak mempercayai kemampuan dirinya sendiri untuk mengarahkan hidupnya
sendiri.
3. Tempat
evaluasi internal
Tempat
evaluasi sendiri yang berkaitan pada kepercayaan diri sendiri berarti lebih
bayak mencari jawaban pada diri sendiri bagi masalah keberadaannya. Klien mulai
melihat kedalam dirinya sendiri dalam membuat keputusan dibandingkan memandang
persetujuan universal dari orang lain seperti sebelumnya.
4. Kesediaan
untuk menjadi suatu proses
Dalam
terbentuknya perubahan dalam diri klien menjadi lebih baik,klien sabar bahwa
perubahan itu adalah hasil dari proses menjalani terapi untuk mencari jalan
keluar untuk mencapai tujuan.
Tujuan-tujuan terapi yang telah diuraikan
merupakan tujuan yang luas. Inti dari terapi person centered adalah anggapan
bahwa klien dalam hubungannya dengan terapis mampu memiliki kesanggupan untuk
menentukan dan menjernihkan tujuan-tujuan sendiri. Terapis berusaha memdorong
klien agar mendengarkan dirinya sendiri dan mampu membuat pilihan yang bukan
pilihan terapis melainkan melainkan pilihannya sendiri.
G.
Fungsi dan Peran Terapis
Peran
terapis person-centered berakar pada
cara-cara keberadaannya dan sikap-sikapnya, bukan pada penggunaan teknik yang
di rancang untuk menjadikan klien “berbuat sesuatu”.
Pada
dasarnya, terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai alat untuk mengubah.
Dengan menghadapi klien pada taraf pribadi ke pribadi , maka “peran” terapis
adalah tanpa peran. Adapun fungsi terapis adalah membangun sutu iklim
terapeutik yang menunjang pertumbuhan klien.
Jadi
, terapis person-centered membangun hubungan yang membantu di mana klien akan
mengalami kekebasan yang di perlukan untuk mengeksplorasi area-area hidupnya
yang sekarang diingkari atau distorsi (gangguan). Dalam hal ini klien kurang
defensif dan menjadi lebih terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan yang ada
dalam dirinya maupun dalam dunia.
·
Pengalaman
Klien dalam Terapi
Dalam
model clien-centered, perubahan terapeutik bergantung kepada persepsi klien,
baik tentang pengalamannya sendiri dalam terapi maupun tentang sikap-sikap
dasar konselor. Jika konselor menciptakan suatu kondisi yang kondusif bagi
eksplorasi diri, maka klien memiliki peluang untuk mengalami dan
mengeksplorasi, perasaan-perasaannya yang banyak di antaranya diingkari pada
permulaan terapi.
Pada
mulanya, klien boleh jadi mengharapkan terapis akan menyediakan jawaban-jawaban
dan pengarahan, atau memandang ahli terapis yang bisa menyediakan
pemecahan-pemecahan masalah. Hal-hal yang mendorong klien untuk menjalani
terapi mungkin adalah perasaan tidak berdaya, tidak kuasa, dan tidak
berkemampuan untuk membuat putusan-putusan atau mengarahkan hidupnya sendiri
secara efektif.
Pada
tahap permulaan terapi, tingkah laku dan perasaan-perasaan klien boleh jadi
ditandai oleh keyakinan-keyakinan dan sikap-sikap yang sangat kaku, hambatan
hambatan internal, kekurangan keterpusatan, merasa terpisah dengan
perasaan-perasaan sendiri.
Dalam
iklim terapeutik yang diciptakan oleh terapis, klie akan bisa mengeksplorasi
dalam lingkungan yang aman dan dipercaya aspek-aspek dunia pribadinya yang
sembunyi.
Setelah
terapi berjalan baik, klien mampu mengeksplorasi lingkup yang lebih luas dari
perasaan-perasaannya. Kini klien mampu menyatakan ketakutan, kecemasan,
perasaan Dalam iklim terapeutik yang diciptakan oleh terapis, klien akan bisa
mengeksplorasi dalam lingkungan yang aman dan dipercaya aspek-aspek dunia
pribadinya yang sembunyi.
Setelah
terapi berjalan baik, klien mampu mengeksplorasi lingkup yang lebih luas dari
perasaan-perasaannya. Kini klien mampu menyatakan ketakutan, kecemasan,
perasaan berdosa, perasaan malu, benci, marah, dan perasaan-perasaan lainnya
yang dianggap terlalu negatif untuk di terima dan dimasukkan ke dalam struktur
dirinya.berdosa, perasaan malu, benci, marah, dan perasaan-perasaan lainnya
yang dianggap terlalu negatif untuk di terima dan dimasukkan ke dalam struktur
dirinya.
Kini
pengerutan dan distorsi klien berkurang serta ia bergerak ke arah persediaan
yang lebih besar untuk menerima dan mengintegrasikan beberapa perasaan yang
bertentangan dan membingungkan mengenai dirinya.
Lambat
laun klien menemukan aspek-aspek diri, yang negatif maupun yang positif, yang
di biarkannya sembunyi. Klien bergerak menjadi lebih terbuka kepada segenap
pengalaman, kurang difensi, lebih banyak berhubungan dengan apa yang
dirasakannya pada saat ini, serta mengalami peningkatan kepercayaan kepada diri
sendiri untuk secara efektif mengelola kehidupannya sendiri. Dalam hal ini
pengalaman klien dalam terapi adalah melepaskan belenggu-belenggu deterministik
yang telah membuat dirinya berada dalam penjara psikologis. Dengan meningkatnya
kebebasan, klien cenderung menjadi lebih mateng secara psikologis dan lebih
teraktualisasi.
H.
Periode-Periode Perkembangan Terapi Person Centered
-
Periode
1 (1940-1950): Psikoterapi nondirektif
Pendekatan
yang menekankan penciptaan iklim permisif dan noninterventif. Melalui terapi
nondirektif, klien akan mencapai pemahaman atas dirinya sendiri dan atas
situasi kehidupannya.
-
Periode
2 (1950-1957): Psikoterapi reflektif
Terapis
terutama merefleksikan perasaan-perasaan klien dan menghindari ancaman dalam hubungan
dengan kliennya. Melalui terapi reflektif, klien mampu mengembangkan
keselarasan antara konsep diri dan konsep diri idealnya.
-
Periode
3 (1957-1970): Terapi eksperiensial
Tingkah
laku yang luas dari terapis yang mengungkapkan sikap-sikap dasarnya menandai
pendekatan terapi eksperiensial ini. Terapi difokuskan pada apa yang sedang
dialami oleh klien dan pada pengungkapan apa yang sedang dialami oleh terapis.
Klien tumbuh pada suatu rangkaian keseluruhan (continuum) dengan belajar
menggunakan apa yang sedangn dialami.
Terapis
berfungsi sebagai penjernih, tetapi tidak menampilkan kepribadiannya sendiri.
Pada periode ini, teknik-teknik seperti bertanya, menggali, mengevaluasi, dan
menafsirkan serta prosedur seperti sejarah kasus, tes psikologi, dan diagnosis
tidak menjadi bagian dari proses terapeutik karena kesemuanya berlandaskan
pedoman-pedoman eksternal;terapi person-centered mengandalkan dorongan
pertumbuhan bawaan klien.
Pada
periode berikutnya, terapi eksperiential menitik beratkan kondisi-kondisi tertentu
yang “diperlukan dan memadai” bagi kelangsungan perubahan kepribadian. Periode
ini memperkenalkan unsure-unsur penting dari sikap-sikap terapis, yakni
keselarasan, pandangan dan penerimaan positif, dan pengertian yang empatik
sebagai prasyarat bagi terapi yang efektif.
Fokus
pada pengalaman langsung dari terapis mengarahkan terapis kepada pengungkapan
perasaan-perasaannya sendiri terhadap klien jika dianggap pantas dan lebih dari
periode-periode sebelumnya, mengizinkan terapis untuk membawa kepribadiannya
sendiri. Terapis menjauhi prosedur-prosedur yang umum digunakan seperti
penetapan tujuan-tujuan, pemberian saran, penafsiran tingkah laku, dan
pemilihan topic-topik yang akan dieksplorasi.
I.
Terapeutik
Terapi person centered terlihat sederhana
dalam teori namun pada kenyataannya susah di pratekkan. Karena dibutuhkan
hubungan yang kongruen antara terapis dan klien, seperti yang telah dinyatakan
sebelumnya terapi ini berpusat pada klien jika kondisi kongruensi, penerimaan
positif tidak bersyarat dan mendengarkan secara empati terjadi dengan baik
dalam hubungan terapis dengan klien maka proses terapi person centered dapat
terjadi sebagai mana mestinya.
Kondisi
Rogers 1959 dalam teori kepribadian mengansumsikan
bahwa suatu perkembangan terapeutik dapat terjadi beberapa kondisi berikut
dianggap perlu dan memadai yaitu :
1. Terapis
yang Kongruen
tidak hanya seseorang yang baik hati dan ramah
namun seorang manusia yang utuh dan menjadi diri sendiri mereka tidak memakai
topeng atau berusaha terlihat menyenangkan.
2. Penerimaan
positif tidak bersyarat
terapis
dengan penerimaan positif tidak bersyarat berarti terapis dapat menerima dan
menghargai klien mereka tanpa batasan dan tanpa melihat perilaku klien. Selain
itu penerimaan positif tidak bersyarat juga merupakan penerimaan yang non
posesif maksudnya meskipun terdapat kepedulian terhadap klien namun terapis
tidak dapat menentukan setiap langkah klien.
3. Mendengarkan
secara empati .
Empati
hadir saat terapis dapat merasakan perasaan klien dan mengomunikasikan persepsi
ini,seorang terapis melihat segala sesuatu dari sudut pandang klien dank lien
merasa aman dan tidak terancam. Empati efaktif karena klien dapat mendengarkan
diri mereka sendiri dan pada akhirmnya menjadi terapis bagi mereka.
Proses
Apabila di awal proses mamapu terjalin kondisi
yang dibutuhkan antara klien dan terapis secara baik maka proses perubahan
terapi akan berlanngsung.
1. Tahapan
dalam perubahan terapeutik
Proses dari perubahan yang konstruktif di bagi
oleh rogers menjadi tujuh tahapan
- Tahap 1
dicirikan dengan ketidakmauan untuk mengomunikasikan apapun tentang diri
- Tahap 2
klien mulai menjadi sedikit lebih tidak kaku.mereka mendiskusikan
peristiwa-peristiwa eksternal daan orang lain, tetapi tidak mengakui atau gagal
menyadari mengenai perasaan mereka sendiri.
- Tahap 3
saat klien memulai tahap 3 mereka lebih bebas dalam membicarakan diri mereka
walaupun masih sebagai objek.klien membicarakan perasaan dan emosi yang terjadi
di masa lalu dan di masa depan,erta menghindari perasaan yang sedang di alami
sekarang.
- Tahap 4
klien pada tahap ini mulai berbicara mengenai perasaan mendalam,tetapi bukan
yang dirasakan saat itu. Saat klien mengeksperisikan perasaan yang dirasakan
sekarng,mereka biasannya akan terkejut dengan ekpresi tersebut. Mereka
menyangkal hal itu walaupun mereka merasakan emosi yang sedang dialami. Meraka
mulai mempertanyakan nilai-nilai yang mereka dapatkan dari orangt lain dan
mulai melihat inkongruensi dari diri yang mereka rasakan dengan pengalaman organismic
mereka. Mereka menerima kebebasan dan tanggung jawab yang lebih pada saat
mereka berada pada tahap ke-3, dan secara perlahan membiarkan diri mereka untuk
lebih terlibat dalam hubungan dengan terapis.
- Tahap 5
klien mulai melalui perubahan dan perubahan signifikan, mereka dapat
mengekspresikan perasaan yang sedang mereka alami walaupun belum secara akurat.
Mereka mulai membuat penemuan baru dan inovatif mengenai diri mereka. Selain
itu, mereka mulai membuat keputusan mereka sendiri dan mengambil tanggung jawab
atas keputusan mereka.
- Tahap
6, pada tahap 6 klien mengalami pertumbuhan dramatis dan pergerakan menuju
seorang manusia yang sepenuhnya atau aktualisasi diri. mereka mulai menerima
pengalaman-pengalaman yang dulunya mereka tolak dan terjadinya kongruen antara
pengalaman-pengalaman yang mereka dapatkan dengan kesadaran dan ekspresi
mereka.
Dalam tahap ini klien akan merasakan beban
berat yang mulai hilang sehingga menjadi lebih rileks, air mata mengalir.
Mereka tidak lagi hanya memandang dari segi eksternal namun bertumpu pada diri
mereka.
- Tahap
7, pada tahap ini klien telah menjadi manusia ‘masa depan’ yang berfungsi
sepenuhnya. Mereka mampu menggeneralisasikan pengalaman dalam terapi mreka
dalam dunia mereka diluar terapi. Mereka lebih percaya diri untuk menjadi diri mereka sendiri, merasakan
pengalaman mereka secara mendalam, dan menghidupkan pengalaman tersebut dimasa
sekarang.
Penjelasan teoritis dari perubahan terapeutik
Rogers
(1980) dalam teori kepribadian, memberikan penjelasan sesuai dengan alur logika
yaitu :
Ketika
seorang merasakan bahwa mereka dihargai, diterima tanpa syarat dan dimengerti.
Mereka akan merasa jika mereka dicintai. Hal itulah yang diberikan terapis,
sehingga klien ketika mereka dimengerti mereka akan mulai belajar mengerti diri
mereka sendiri, menerima diri mereka sendiri tanpa syarat. Hasilnya, mereka
merasakan kekongruenan antara dengan pengalaman organismic mereka. Ketiak
mereka memilik ketiga karakteristik terapeutik mereka akan bisa menjadi terapis
bagi diri mereka sendiri.
Hasil
Dari
proses terapeutik mulai terjadi perubahan yang diharapkan seperti :
1.
Klien yang kongruen
2.
Tidak difensif,
3.
Terbuka terhadap pengalaman.
4.
Mempunyai pandangan yang lebih relistis
mengenai dunia
5.
Mengembangkan penghargaan diri yang positif
6.
Mempersempit diri ideal dengan diri
sebenarnya.
7.
Menjadi tidak terlalu rentan atas ancaman.
8.
Menjadi tidak terlalu cemas
9.
Mengakui pengalaman-pengalamannya
10.
Menjadi lebih menerima orang lain
11.
Menjadi lebih kongruen dengan hubungnya dengan
orang lain.
BAB III
SIMPULAN
Pada
teori person centered ini Rogers memandang manusia dapat menyusun dirinya
sendiri menurut persepsinya tentang kenyataan. Teori ini menekankan bahwa klien
dapat memahami faktor-faktor yang ada dalam dirinya yang menimbulkan ketidakbahagiaan.
Klien sanggup untuk melakukan perubahan pribadi yang konstruktif.
Hal-hal
diatas dapat tercapai jika hubungan anatara terapis dan klien merupakan
hubungan yang kongruen, menerima apa adanya, dan empatik. Terapi ini mendorong
klien untuk menanggalkan pertahanan pada pengalaman yang yang sebelumnya
diingkari.
Klien
dituntut untuk terbuka pada pengalaman, percaya pada dirinya sendiri,
mengembangkan evaluasi internal, kesediaan menjadi suatu prosesdan dengan
cara-cara lain bergerak menuju taraf yang lebih tinggi dari aktualisasi diri.
terapis tidak mengajukan tujuan-tujuan spesifik, klien sendirilah yang
menentukan tujuan dan nilai hidupnya.
DAFTAR PUSTAKA
Alwisol. 2008. Psikologi Kepribadian. Malang :
UMM Press.
Corey, Gerald. 2009. Theory and Practice of Counseling and
Psychotherapy. United States of America.
Graham, Helen. 2005. Psikologi Humanistik.
Yogyakarta : Pustaka Belajar
Feist, Jess. Gregory J Feist. 2010. Teori
Kepribadian. Jakarta : Salemba Humanika.
Hall, Calvin S. Gardner Lindzey. 2005 Teori-
Teori Holistik (Organismik-Fenomenologis). Yogyakarta : Kanisius.
Jarvis, Matt. 2006. Teori-Teori Psikologi.
Bandung : Nusamedia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar